Showing posts with label Asalusul. Show all posts
Showing posts with label Asalusul. Show all posts
ilalangkota

Jawa Timur memang kaya objek wisata religi. Salah satunya adalah Padepokan Indrakila di lereng Gunung Arjuno. Selain menjadi wisata religi, tempat ini juga cukup menarik bagi para petualang.

Pendaki Gunung Arjuna yang terletak di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, kita akan mendapati cerita-cerita menarik seperti yang pernah ada dalam cerita wayang. Kalau dulu cerita-cerita Epos Mahabharata itu hanya dianggap sebagai cerita belaka dalam pagelaran wayang, tetapi di sini kita mendapati kisah-kisah dalam wayang itu seperti benar-benar pernah terjadi di wilayah ini. Bila punya keinginan mendaki Gunung Arjuna ke puncak yang lebih tinggi seperti yang dilakukan para pecinta alam, bisa lewat dari arah selatan, lewat Purwodadi Pasuruan. Di puncak itu kita mendapati tumpukan batu-batu yang konon dipercayai merupakan makam-makam tokoh-tokoh pewayangan, seperti Abiasa (kakek para Pandawa), Bima, Semar, bahkan ada tempat yang dinamakan ‘Wot Ogal Agil’, yang dalam imajinasi cerita  radio “Satriya Madangkara” merupakan tempat Arya Kamandanu menyimpan pedangnya.
ilalangkota
Makam Mbah Bangil bertarikh 680M

Grati/Telaga Pager

Di ujung timur tlatah Jawa Timur ini, yang merupakan gerbang antara laut dan pegunungan ke ujung timur Jawa, dikisahkan terjadi pabaratan antara orang Bali dan orang Jawa. Yang termasuk sejarah tlatah ini adalah kisah mengenai danau Grati yang sering dituturkan kembali pada kakawin Pararaton diatas dengan nama Telaga pager.

Bangil/Banger/Bengal/Bang-il

Menurut catatan Tiongkok ada kabar berita dari Raja Ta-Cheh (Mu'awiyah bin Abu Sofyan) mengirimkan utusan untuk menyelidiki kerajaan Kalingga (674/675M) yang mendarat di Syah Bandar yang bernama Banger/ Bang-il. Lalu dalam kakawin Harsawijaya dimana R. Wijaya berangkat ke pelabuhan Banger dekat Rembang yang menuju Sungeneb (Sumenep Madura).
Labels: 3 comments |
ilalangkota

Pandakan berasal dari kata paundak-undakan merupakan daerah yang bertebing, merupakan daerah yang terkenal sejak dahulu sebagaimana dipetik dari Terjemahan K.J. Padmapuspita (Jogjakarta, Taman Siswa, 1966) hal 70-79. Sebagai berikut, ...Sri Ranggawuni meninggalkan seorang anak laki-laki, bernama Sri Kertanegara; Mahisa-Cempaka meninggalkan seorang anak laki-laki juga, bernama Raden Wijaya. Kertenegara menjadi raja, bernama Batara Siwabudha. Adalah seorang hambanya, keturunan orang tertua di Nangka (Nangkajajar), bernama Banyak-Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa-rupanya tidak dipercaya, dijauhkan, disuruh menjadi adipati di Sungeneb, bertempat-tinggal di Madura sebelah timur. Ada patihnya, pada waktu ia baru saja naik ke atas tahta kerajaan, bernama Empu Raganata ini selalu memberi nasehat untuk keselamatan raja, ia tidak dihiraukan oleh Sri Kertanegara;
Labels: 0 comments |
ilalangkota
Sejarah perkembangan pabrik gula Kedawoeng Pasuruan terdiri dari beberapa periode yang sering mengalami perubahan atau pergantian kepemilikan sesuai dengan perubahan waktu dan perubahan pemerintahan sampai akhirnya PG. Kedawoeng Pasuruan menjadi sebuah BPUPPN ( Badan Pimpinan Umum Perusahaan Perkebunan Negara ).
PG. Kedawoeng didirikan pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, tanggal 6 November 1898, dengan nama NV. Kedawoeng dan diresmikan oleh Mevrouw De Wed Lebret. Di daerah Kedawoeng karisidenan Passourouang (Pasuruan). Nama Kedawoeng diambil dari Jawa bahasa Jawa dari kata-kata 'ke da-ung' yang berarti 'kaya daun'. Daerah ini sekitar 45,5 hektar yang merupakan tanah tunjangan bagi Letnan/Panglima Perang Hindia Belanda yng pada waktu itu dikuasakan kepada Johannes Coert yang dipindahkan pada tahun 1792 ke Pasuruan sebagai Letnan dan Panglima Pasuruan, di mana ia menggantikan Mayor tit. Adriaan van Rijck yang meninggal pada 14 Agustus 1792.
Labels: 1 comments |
ilalangkota

Kera – kera yang di pelihara oleh penemu Banyu Biru ( P. tombro ) berkembang biak hingga beratus – ratus ekor. Pada waktu pendudukan Jepang kera-kera itu habis ditembaki dan sisanya menyingkir kehutan di dekat desa Umbulan yang terkenal dengan sumber air minumnya
Para pedagang yang datang dari semenanjung Arab banyak menimbulkan perubahan dan peradaban baru di tanah air kita khususnya kerajaan Majapahit pada waktu itu. Agama islam yang di bawanya serta cepat sekali meresab dalam hati rakyat terutama rakyat kecil yang pada mulanya selalu hidup dalam lingkungan kasta dan perbedaan sesial lainnya. Pelan tapi pasti kerajaan Majapahit yang dulu di bangun dengan menelan korban harta dan jiwa mulai memudar cahayanya.
Labels: 0 comments |
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...