Wajar banyak turis domestik maupun mancanegara tergiur eksotisnya kawasan Gunung Arjuna. Di sana masih terhampar luas potensi-potensi yang bila dikembangkan akan mampu menyedot arus wisatawan. Seperti di kawasan lereng Gunung Arjuna dan sekitamya, terutama Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Potensi desa itu ibarat perawan yang butuh sentuhan sehingga keelokannya kian menggoda.
Tinggal membedaki, memberi sedikit gincu dan pemerah, tentu perawan yang bersolek akan menarik banyak kumbang (baca: wisatawan). Cobalah Anda susuri potensi terpendam di area itu. Alamnya masih asri, udara sejuk, dan pemandangan yang tampak adalah kehijauan yang sedap dipandang mata. Desa Tambaksari adalah desa terakhir sebelum wisatawan, terutama pendaki gunung, melanjutkan aksinya berhiking ria. Rute menantang, seperti naik turun, menanjak danmenikung adalah seni mendaki gunung.
Batik Pasuruan, Meski terbilang tertinggal dengan daerah lain yang lebih dulu dikenal akan motif batiknya, bukan berarti Pasuruan berdiam diri. Dengan objek keindahan wisata Pasuruan yang sudah banyak dikenal, para pengrajin pun menuangkannya dalam lukisan batik. Tiga yang cukup dikenal adalah batik sedap malam, jumputan bromo, dan bunga krisan.
Pilihan nama itu terbilang cukup cerdas, karena mengesankan nama yang unik dan indah. Kholifah, ketua batik Dinar Agung mengatakan, batik jumputan pasir Bromo memang diambil dari nama gunung Bromo, yang sudah terkenal. Nama Bromo sengaja diangkat untuk membuat penasaan para pecinta batik. Harapannya, grade batik Pasuruan naik dan mampu bersaing dengan potensi batik yang lebih dulu muncul. Dari sisi desain, batik jumputan pasir bromo bersifat abstrak, yakni berbentuk butiran-butiran pasir kecil, besar dan berlekuk. Selain gunung Bromo, kelebihan alam yang dimiliki di kawasan pegunungan Tutur, Nongkojajar, juga diangkat sebagai motif batik. Yakni bunga krisan. Bunga cantik ini memiliki aneka wana yang banyak dicari untuk hiasan rumah maupun acara pengantinan.
Jawa Timur memang kaya objek wisata religi. Salah satunya adalah Padepokan Indrakila di lereng Gunung Arjuno. Selain menjadi wisata religi, tempat ini juga cukup menarik bagi para petualang.
Pendaki Gunung Arjuna yang terletak di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, kita akan mendapati cerita-cerita menarik seperti yang pernah ada dalam cerita wayang. Kalau dulu cerita-cerita Epos Mahabharata itu hanya dianggap sebagai cerita belaka dalam pagelaran wayang, tetapi di sini kita mendapati kisah-kisah dalam wayang itu seperti benar-benar pernah terjadi di wilayah ini. Bila punya keinginan mendaki Gunung Arjuna ke puncak yang lebih tinggi seperti yang dilakukan para pecinta alam, bisa lewat dari arah selatan, lewat Purwodadi Pasuruan. Di puncak itu kita mendapati tumpukan batu-batu yang konon dipercayai merupakan makam-makam tokoh-tokoh pewayangan, seperti Abiasa (kakek para Pandawa), Bima, Semar, bahkan ada tempat yang dinamakan ‘Wot Ogal Agil’, yang dalam imajinasi cerita radio “Satriya Madangkara” merupakan tempat Arya Kamandanu menyimpan pedangnya.
Bertempat di Dusun Belahan, Desa Wonosonyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur. Koordinatnya menurut Wikimap adalah: 7°34’34″S 112°40’22″E.

5 km dari jalan raya Pelem, mengikuti papan penunjuk arah kita akan dibimbing menuju suatu sumber, yang konon airnya memiliki khasiat dapat membuat awet muda ini merupakan peninggalan sejarah yang dulu pernah dijadikan tempat pertapaan Prabu Airlangga setelah memisahkan diri dari Pemerintahan Kahuripan. Tidak hanya itu, Sumber ini dulu juga pernah difungsikan sebagai pemandian selir – selir Prabu Airlangga. Oleh karnanya, sebagai bentuk pengabadian, pada sumber tersebut dibangun 2 patung permaisuri Prabu Airlangga, yaitu Dewi Lasmi dan Dewi Sri. Dimana aliran air sumber tersebut mengalir melalui tetek salah satu patung yang berdiri disana.
Candi Gunung Gangsir terletak di Desa Gunung Gangsir Kecamatan Beji, sekitar 18 km dari kota Pasuruan. Candi ini sebenarnya bernama bernama Candi Keboncandi, namun karena letaknya di Desa Gunung Gangsir, maka masyarakat setempat menyebutnya Candi Gunung Gangsir.
Tidak banyak informasi yang bisa didapat mengenai candi yang konon dibangun pada masa pemerintahan Raja Airlangga, yaitu sekitar abat ke-11 M. Walaupun diperkirakan berasal dari masa yang lebih awal sebelum masa pemerintahan Singasari, Candi Gunung Gangsir dibangun menggunakan bahan batu bata, bukan batu andesit.
Mengenai fungsi Candi Gunung Gangsir tidak didapatkan informasi yang jelas. Masyarakat setempat mempunyai versi tersendiri mengenai tujuan pembangunan candi ini. Menurut mereka, Candi Gunung Gangsir dibangun sebagai penghormatan kepada Nyi Sri Gati, yang dijuluki Mbok Randa Derma (janda murah hati), atas jasanya dalam membangun masyarakat pertanian di daerah itu.
Candi Jawi adalah candi yang dibangun sekitar abad ke-13 dan merupakan peninggalan bersejarah Hindu - Buddha Kerajaan Singhasari di kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. Candi ini terletak di pertengahan jalan raya antara Kecamatan Pandaan - Kecamatan Prigen dan Pringebukan. Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Buddha, namun sebenarnya merupakan tempat penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara. Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari. Kedua candi ini ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan tempat peribadatan Raja Kertanegara.
Latar belakang
Alasan Kertanegara membangun candi Jawi jauh dari pusat kerajaan diduga karena di kawasan ini pengikut ajaran Siwa-Buddha sangat kuat. Rakyat di daerah itu sangat setia. Sekalipun Kertanegara dikenal sebagai raja yang masyhur, ia juga memiliki banyak musuh di dalam negeri. Kidung Panji Wijayakrama, misalnya, menyebutkan terjadinya pemberontakan Kelana Bayangkara. Negarakertagama mencatat adanya pemberontakan Cayaraja.
Ada dugaan bahwa kawasan Candi Jawi dijadikan basis oleh pendukung Kertanegara. Dugaan ini timbul dari kisah sejarah bahwa saat Dyah Wijaya, menantu Kertanegara, melarikan diri setelah Kertanegera dikudeta raja bawahannya, Jayakatwang dari Gelang-gelang (daerah Kediri), dia sempat bersembunyi di daerah ini, sebelum akhirnya mengungsi ke Madura.